Genre Novel Sastra Ekologi

Apa itu Genre Novel? Genre Novel adalah pengelompokkan dan pembagian jenis, tipe, dan bentuk novel berdasarkan pokok pembahasan dan target pembacanya sebagai karya sastra.

Sederhananya …

Pengertian genre novel merupakan pengkategorian novel berdasarkan isi dalam cerita agar dapat membedakan antara sastra novel yang satu dengan novel sastra lainnya supaya pembaca dapat menemukan bacaan novel yang sesuai dengan keinginan.

Apa saja Genre Novel Sastra? Pada dasarnya novel hanya memiliki satu genre, yakni genre fiksi. Novel selalu berbentuk fiksi. Jika ada yang membuat novel bergenre non-fiksi, jelas hal itu sudah salah sesuai makna novel. 

Novel non fiksi itu tidak ada! Walau tentu bisa saja menulis novel berdasarkan kisah nyata.

Akan tetapi kisah nyata itu hanya sebagai inspirasi semata untuk latar belakang, tokoh dan penokohannya saja. 

Selebihnya, unsur-unsur novel akan terkombinasi dengan hal-hal fiktif berdasarkan imajinasi agar alur cerita sesuai dengan keinginan. Jadi, tidak ada yang namanya novel genre non-fiksi walau beberapa unsur ceritanya berdasarkan kisah nyata. 

Definisi Genre Novel

Ragam genre novel fiksi menyesuaikan dengan sub-genre.

Kamu tentu sudah tidak asing dengan cabang genre atau subgenre fiksi ilmiah, fiksi sejarah, fiksi remaja, fiksi urban, dan lainya.

Pengkategorian novel berdasarkan jenis genre. Salah satu contoh genre novel yang paling banyak diminati dan disukai remaja Indonesia adalah genre romance dan genre fiksi remaja.

Novel genre romance menjadi salah satu jenis novel paling laris di Indonesia. Bahkan popularitasnya banyak memotivasi penulis sehingga …

… kebanyakan penulis pemula memulai langkah menulis novelnya dengan menulis novel genre romance. 

Banyak platform menulis novel yang menampilkan novel genre romance sebagai genre novel  yang paling banyak dibaca.

Tapi, jika kamu tidak menyukai novel romance dan ingin membuat sesuatu yang berbeda dari selera pasar. Kamu bisa menulis novel bergenre eko fiksi atau ekologi sastra. Genre eko fiksi bukan sesuatu yang baru.

Genre Novel

Ekologi Fiksi menjadi salah satu contoh genre novel yang memiliki potensi banyak peminat karena pokok pembahasannya berkaitan dengan alam. 

Apa itu Ekologi Sastra?

Ekologi sastra adalah perpaduan dari dua rangkaian ilmu, yakni; ilmu sastra dan ilmu lingkungan atau ekologi.

Pada pemahaman ini, ekologi sastra sebagai ekologi fiksi, biasa disingkat sebagai  eko fiksi merupakan subgenre novel yang menceritakan keterlibatan hubungan manusia dengan lingkungan atau alam sekitar.

Ekologi sastra memberikan pandangan, pemikiran, pemahaman dan perhatian pada kegiatan manusia terhadap alam. 

Menurut The Cambridge History of the American Novel yang mengutip sebuah bab bertajuk eko fiksi kontemporer dari pendapat Jonathan Levin:

“Eko Fiksi adalah istilah yang elastis karena membahas hubungan antara alam dengan manusia yang tinggal di dalamnya. Istilah ini muncul setelah ekologi menjadi paradigma ilmiah populer dan bentuk sikap budaya pada  1960-an dan 1970-an.”

Permulaan Ekologi Fiksi 

Eko fiksi mulai mengalami perkembangan di tahun 1970-an. Pada saat itu, gerakan peduli ekologi mulai menggema di mana-mana. Biasanya gerakan tersebut berbentuk ekokritik, sehingga pelan-pelan mulai menyambar ke ranah sastra.

Ekokritik adalah studi sastra dan lingkungan dari sudut pandang bidang studi. Sarjana Sastra mulai menganalisis teks yang menggambarkan masalah lingkungan dan menyampaikannya lewat cara sastra dengan alam sebagai subjeknya.

Menurut pandangan para sarjana Amerika. Eko fiksi bukan sebuah genre novel. Eko fiksi merupakan istilah yang menggunakan sudut pandang subjek alam dengan keterkaitan lingkungan hidup dan sastra.

Unsur ekologi yang terkandung di dalam cerita fiksi tidak hanya tentang lingkungan hidup sebagai latar belakang saja. Bahkan , kadang-kadang malah menjadi keseluruhan isi cerita. 

Genre Novel Sastra Ekologi

Seringkali penulis menyebut novel-novel eko fiksi sebagai rewilding novel.

Pandangan Ekologi Fiksi  menurut para Penulis.

Penulis di dunia memiliki cara pandangnya sendiri dalam mendefinisikan ekologi sastra. Definisi genre ekologi sastra menurut penulis di dunia rata-rata memiliki keselarasan.

Ekologi Fiksi Menurut Cheryll Glotfelty

Seorang pengarang dan jurnalis membuat esai dengan penerapan ilmu ekologi dan ilmu sastra pada tahun 1996. Melalui pendekatan alam atau lingkungan hidup sebagai pokok studinya yang berbentuk antologi The Ecocriticism Reader

Dari esai Cheryll Glotfelty, kita dapat menyimpulkan definisi ekologi sastra sebagai sebuah studi tentang hubungan antara sastra dan lingkungan hidup.

Hal ini selaras dengan pemahaman yang ada di dalam banyak makalah dan jurnal susuan Mahasiswa Indonesia. Makna ekologi sastra sebagai cara pandang memahami permasalahan lingkungan hidup dengan keterkaitan sastra, mengutip Endraswara.

Dalam studi itu, Cheryll Glotfelty menjadikan lingkungan atau alam sebagai sumber inspirasi bagi karya sastra. Sedangkan, sastra menjadi alat konservasi bagi alam.

Ekologi Fiksi Menurut Jim Dwyer

Tidak hanya Cheryll Glotfelty. Penulis dan Jurnalis berkebangsaan Amerika, Jim Dwyer juga melakukan penelitian agar dapat menyatakan kriteria penggolongan eko-fiksi. Kriteria Jim berkaitan erat dengan kriteria dari Lawrence Buell.

Lawrence Buell merupakan seorang Profesor Emeritus Sastra Amerika di Universitas Harvard yang menjadi spesialis sastra dan pelopor ekokritik. 

Dwyer menjelaskan bahwa eko-fiksi … “Mungkin secara sederhana menggambarkan perspektif kritis tentang hubungan antara sastra dan alam dunia atau tempat yang manusia ada di dalamnya.”

Ekologi Fiksi Menurut Patricia D. Netzley

Sedangkan menurut Patricia D. Netzley , dalam sebuah kajian Environmental Literature: An Encyclopedia of Works, Authors, and Themes, menjabarkan makna ekologi fiksi menjadi tiga pemahaman, yaitu;

“Ekologi Fiksi adalah karya yang menggambarkan gerakan lingkungan dan aktivitas lingkungan, karya yang menggambarkan konflik terhadap lingkungan dengan mengungkapkan keyakinan si penulis, dan karya yang menonjolkan kiamat lingkungan.”

Dalam karya tulis antologi bertajuk In Our Nature: Stories of Wildness terbitan University of Georgia Press tahun 2002. Antologi itu mengandung empat belas cerita pendek.

Kumpulan cerita pendekyang memprovokasi, menerangi, dan mengejutkan, saat mengeksplorasi persepsi tentang alam dan konflik antara liarnya manusia dan peradaban dalam diri manusia.

Antologi ini membuat pembacanya sadar akan konsekuensi dari kerusakan hutan dan lahan, eksploitasi laut, dan racun industrial. Sehingga membuat manusia mengalami ketidakpastian terhadap hubungannya dengan bumi.

Karya tulis antologi itu memberikan definisi tentang eko fiksi yang menggambarkan alam sebagai sebuah tokoh yang berkarakter mengerikan.

Penggambaran alam di dalam antologinya sebagai musuh yang haus pembalasan karena penurunan moral manusia, atau sebagai wilayah bak mimpi buruk bagi manusia yang penuh kekacauan.

Alam juga tergambarkan sebagai tempat yang mengerikan, juga mengandung kekuatan magis di luar nalar, dan makhluk-makhluk mistis.

Ekologi Fiksi sebagai Genre Novel

Beberapa media juga membahas eko fiksi. Media sering mengkategorikan genre ekologi fiksi ini ke dalam suatu istilah saja, bukan sebagai genre novel.

Tetapi, ada pula orang-orang di dunia ini yang masih menggunakan eko fiksi sebagai label dari Ekologi Sastra.

Menjadikan ekologi sastra sebagai bentuk pendekatan eksplorasi literasi tentang hubungan manusia dengan alam.

Setiap genre novel fiksi tentu saja bisa membahas perubahan iklim, isu lingkungan hidup dan ekologi. Namun, beberapa genre sering menggunakan perspektif yang berbeda dengan pemahaman eko fiksi, misalnya:

  • Afrofuturism dan Futurisme Afrika merupakan sub-genre novel fiksi ilmiah yang berakar langsung pada budaya, sejarah, mitologi, dan sudut pandang orang Afrika tanap mengistimewakan Barat.
  • Fiksi Antroposen merupakan genre fiksi yang menyinggung pengaruh aktivitas dan tindakan manusia pada global terhadap ekosistem alam. 
  • Futurisme Pribumi juga menjadi sub-genre novel fiksi ilmiah yang mengekspresikan perspektif orang-orang pribumi yang memiliki kebudayaan dan peradaban.
  • Fiksi apokaliptik dan pasca-apokaliptik salah satu sub-genre fiksi ilmiah, fantasi ilmiah dan distopia tentang keruntuhan peradaban bumi.
  • Solarpunk merupakan genre novel sastra yang membayangkan masa depan umat manusia saat berhasil berlanjut dari dampak terhadap lingkungan.
  • Fiksi Spekulatif adalah genre novel dengan ragam unsur-unsur yang tidak ada dalam kenyataan, catatan sejarah, dan alam semesta. Biasanya mengandung tema berkonteks alam gaib, futuristik, dan alam imajinatif lainnya.
  • Fiksi Iklim merupakan sebuah literatur sastra yang berhubungan dengan perubahan cuaca dari efek pemanasan global di dunia nyata atau spekulatif.
  • Fiksi Utopia dan Distopia.

Contoh genre novel di atas bisa saja menceritakan hewan, keadaan manusia atau sampah plastik di lautan dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Meskipun begitu, cerita tersebut belum tentu dikategorikan sebagai eko fiksi, meskipun bersifat ekologis. 

Syarat Eko Fiksi

Suatu karya bisa menjadi genre novel ekologi fiksi, apabila mampu menceritakan aktivitas dan tindakan manusia yang memengaruhi hubungannya dengan alam tempat tinggal.

Keadaan lingkungan alam yang mempengaruhi kesusastraan dan kebutuhan hidup manusia. Salah satunya adalah pendidikan atau pendapat, mengemukakan gagasan dan pikiran.

Perubahan yang terjadi di lingkungan alam sekitar manusia akan membuat manusia berubah. Sehingga manusia mampu menyesuaikan dirinya dengan berbagai macam gagasan maupun pemikiran.

Dampak Sosial Ekologi Sastra

Pada 3 Maret 2016. Rosamund Hutt, seorang penulis senior di Forum Ekonomi Dunia dalam situsnya weforum.org merilis sebuah artikel yang membahas:

“9 novel yang mengubah dunia”. 

Sebagai bentuk memperingati Hari Buku Sedunia. Artikel tersebut menampilkan sebuah novel berkategori eko fiksi, yakni: The Jungle karya Upton Sinclair terbitan tahun 1906.

Dalam proses risetnya, Sinclair melaksanakan praktik muckraker—jurnalis, penulis, dan fotografer yang berpikiran reformasi di Era Progresif di Amerika Serikat, fokus mengungkap korupsi dan kesalahan di lembaga-lembaga mapan.

Sinclair menghabiskan tujuh minggu untuk mengumpulkan informasi ketika menyamar sebagai pekerja di pabrik pengepakan daging gudang Chicago untuk surat kabar sosialis Appeal to Reason

Awalnya, Sinclair menerbitkan novel ke dalam bentuk serial di tahun 1905 dalam surat kabar, kemudian terbit sebagai buku oleh Doubleday pada tahun 1906.

Novel The Jungle memberi pengaruh terhadap keadaan sosial.

Genre Novel Sastra Ekologi

The Jungle karya Upton Sinclair, telah berhasil mengungkap pelanggaran kesehatan dan praktik tidak sehat dalam industri pengemasan daging Amerika, selama awal abad ke-20.

Novel ini telah berkontribusi besar pada kemarahan publik dan menyebabkan reformasi termasuk Undang-Undang Inspeksi Daging.

Presiden Theodore Roosevelt yang menjabat kala itu langsung menugaskan penyelidikan ke dalam industri pengepakan daging Chicago. 

Dalam setahun, Undang-Undang Pemeriksaan Daging disahkan, bersama dengan Undang-Undang Makanan dan Obat-obatan Murni.

Kemudian, membuka jalan bagi Administrasi Makanan dan Obat-obatan

Dengan begini, secara empiris pengaruh literatur yang melibatkan lingkungan dapat membuat pembaca lebih peduli tentang kesejahteraan hewan dan perubahan iklim dan meningkatkan kesadaran akan ketidakadilan lingkungan.

Contoh Novel Genre Ekologi Sastra

Ada banyak buku dan karya tulis yang dikemas ke dalam bentuk puisi, lagu, naskah drama, cerpen, esai dan novel bergenre Ekologi Sastra. Selain itu, cerita-cerita tradisional dan legenda juga membahas Ekologi Sastra.

Di bagian ini, saya hanya memberikan dua contoh novel Ekologi Sastra atau novel-novel yang memiliki genre ekologi fiksi.

Rindu Terpisah di Raja Ampat karya Kirana Kejora

Novel Rindu Terpisah di Raja Ampat karya Kirana Kejora yang merupakan seorang alumni Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang. Novel ini memberikan eksplorasi dan narasi berlatar kisah di Papua Barat, di kota Timika, Kuala Kencana, Sorong, dan Raja Ampat.

Mengutip penggalan ulasan dari Arif Gumantia, seorang penyair di Majelis Sastra Madiun tentang novel ini:

Novel ini lahir bersamaan dengan kesadaran pemerintah terkait pentingnya pembangunan berorientasi kelautan.

Pemerintah yang saat ini mencoba memperbaiki kesalahan selama ini, yakni “Memunggungi Lautan”. Padahal sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan. Sehingga novel ini terasa signifikan dan relevan dengan apa yang kita lihat akhir akhir ini.

Bapangku Bapunkku karya Hardian Pago

Novel Bapangku Bapunkku karya Hardian Pago merupakan novel yang menceritakan sosok Bapak yang disebut Bapang dalam suku Semende. Bapang memilih aliran Punk sebagai bentuk kebebasan.

Novel ini menggunakan sudut pandang si anak yang menceritakan sosok bapaknya dalam mendidik keempat anak-anaknya. Novel ini banyak mengkritik pendidikan di Indonesia tentang bagaimana sekolah memberi perlakuan ke anak-anak Bapang.

Dalam novel ini, ada empat puisi yang menampilkan ekologi sastra; keempat puisi itu bertajuk Dahlia Ungu, Cinta dalam Doa, Rayuanku, dan Marah yang dijabarkan dalam sebuah jurnal susunan Mardiana Sari, seorang dosen Dosen Universitas PGRI Palembang.

Kesimpulan :

Ekologi Sastra merupakan perpaduan dari dua ilmu, seperti ilmu sastra dan ilmu alam. Ekologi Fiksi sebagai subgenre novel yang menceritakan hubungan manusia dengan alam. 

Hubungan manusia dengan alam di dalam genre ekologi fiksi ini menyangkut dengan cara pandang, pikir, perhatian dan pemahaman manusia yang hidup di lingkungan alam tempat tinggalnya. 

Genre Novel Ekologi Sastra menjadi istilah elasti terluas yang pernah ditemukan sebagai bentuk definisi pemikiran, perhatian, dan ekspresi manusia terhadap hubungannya dengan alam tempat tinggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.